Sehabis mengantar Benneth ke peristirahatannya yang terakhir
Jumat 28 Maret 2008
Masih ingat postingan ibu terakhir tentang sms Vita yang bilang sudah sampai di RSPP? Itu kira-kira jam 11.30. Lalu ibu istirahat makan siang di ruang rapat. Tiba-tiba jam 1 kurang 10 menit Ike menelpon ibu menanyakan benarkah Ben sudah pergi? Ibu segera lari ke depan komputer dan mendapati layar komputer ibu penuh dengan pertanyaan yang sama. Ibu cepat2 matikan komputer dan bergegas ke RSPP.
Sampai di UGD, ibu menanyakan ke petugas ternyata Ben sudah dibawa ke kamar mayat. Dengan berderai air mata, ibu berlari. Di sana ada mas Hadi dengan mata yang memerah dan langsung berurai melihat ibu. “Tolong temani vita di UGD, dia pingsan”. Ibu lari lagi ke ruang UGD dan mendapati Vita duduk di atas tempat tidur ditemani temannya Novi.Tangispun pecah!
“Yul, ini mimpi kan? Nanti aku bangun, Benneth ada kan?”, kalimat yang terus diucapkan Vita diantara tangisnya. Ibu tak tahu lagi mau berkata apa selain bilang ke Vita kalau Ben pasti sudah senang di Surga bersama Yesus.
Semalam sebelum Ben dibawa ke RSPP, kondisinya memang sudah drop sekali. Nafasnya tersengal-sengal. Begitu juga pagi menjelang dibawa ke RSPP. Cukup dilematis memang. Tapi mengingat pelayanan yang kurang maksimal, akhirnya diputuskan Ben tetap dipindahkan. Begitu dari UGD RSPP, kondisi Ben turun lagi saat akan dibawa ke ruang ICU Burnt Unit. Dan pergilah Ben selamanya. Infeksi akibat luka bakarnya sudah tak tertahankan padahal luka bakarnya sudah mengering.
Vita tak menyesali keputusannya memindahkan Ben tapi justru yang ia sesali adalah kenapa tidak memindahkan Ben dari minggu lalu. Karena sewaktu konsultasi ke dokter2 di RSPP, mereka mengatakan seharusnya Ben sudah dibawa ke situ di minggu pertama. Tapi waktu itu pun ICU RSPP penuh.
Duh, Vit jangan pernah menyesali apapun. Kamu sudah melakukan yang terbaik. TapiTuhan lebih tau mana yang terbaik buat Ben.
Jam 2 siang teman-teman lain mulai berdatangan. Untung Shinto datang karena dia yang mengerti apa yang harus dilakukan. Kami berdua bersama Atik (adiknya Vita) bergegas mencari kemeja dll di mayestik untuk ‘mendandani’ Ben. Seluruh wajah Ben dan kedua tangannya harus diperban karena terus menerus mengeluarkan air. Tersobek-sobek rasanya hati ini melihat kedua orang pengurus mayat mendadani Ben.Nggak karuan rasanya mendengar mas Hadi ‘bercakap-cakap’ dengan Ben seakan-akan ia mendengar. Airmata ibu seakan tak ada habisnya mengalir.
Sabtu 29 Maret
Jam 7.30 ibu sudah ada di rumah Vita. Ben di peti bersama dengan beberapa benda kesayangannya. Berbarengan dengan rombongan guru-guru dari TK Harapan Bunda yang akan mengadakan pelepasan terakhir untuk Ben. Dan lagi sungguh menguras airmata saat salah seorang guru bercerita tentang Ben yang nggak pernah nangis di sekolah dan selalu ceria. Kemudian seorang guru kesayangan Ben menyanyikan sebuah lagu. Ternyata hari senin besok, di sekolah diadakan perayaan ulangtahun untuk yang berulangtahun di bulan Maret (Ben tanggal 6 Maret lalu berulangtahun ke-6). Ben sudah wanti-wanti Vita untuk membuatkan cake Naruto. Goodybag dan kado yang dipersiapkan sekolah untuk Ben dibawa dalam peti.
Di rumah duka, ibu bertemu dengan mamanya Ezra, teman Ben yagn sudah terlebih dahulu pergi. Beliau sudah tabah sekali dan terlihat damai dan sudah iklas merelakan Ezra pergi. Ketika ibu memperkenalkan diri dan bahwa nama anak kita sama, Ia langsung menangis dan memeluk ibu. Ia bilang kapan-kapan ingin bertemu dengan Ezranya-ibu.
Saat-saat memberikan ciuman terakhir sebelum tutup peti juga jadi bagian yang menguras emosi. Catherine yang sebelumnya masih telihat ceria kali ini terus menerus menangis. Begitu juga saat di pemakaman. Vita kerap kali bilang berat sekali rasanya. Mas Hadipun yang waktu hari Jumat terlihat tabah, hari ini juga terus berurai airmata.
Tanda-tanda
Tiga hari sebelum kejadian terbakarnya mobil, Vita bercerita Ben mendadak aneh. Satu hari itu rasanya dia tidak mau pulang. Sehabis minta potong rambut, Ben minta makan, sehabis makan dia minta beli game, lalu minta lagi belanja ke Indomaret. Ini bukan kebiasaan Ben. Seminggu sebelum itu, Ben rajin memfoto dirinya sendiri di HP kedua orangtuanya.Dia sempet protes : koq di rumah ini foto kakak Cattherine melulu sih, foto Ben Cuma sedikit. Mas Hadi dan Vita memberi penjelsan, waktu jamannya kakak belum ada kamera digital, jadi semua dicetak. Foto-foto Ben banyak di komputer papa di kantor, di HP mama, disimpan di komputer rumah. Banyak juga. Tapi meski tetap sudah dijelaskan, Ben asik memfoto-foto dirinya sendiri.
Dua hari menjelang kepergian Ben. Di rumah Atik, tiba-tiba saja Catherine tanpa ujung pangkal dan sedang tidak membahas alkitab pada saat itu, ia bicara begini : “di alkitab ada ayat yang bilang ‘manusia berasal dari tanah akan kembali ke tanah’.
Dan di hari itu juga anaknya Atik yang berusia 1.5tahun tiba-tiba memanggil-manggil nama Ben. Sambil menunjuk ke satu tempat seakan-akan ia melihat Ben ada di situ.Ini terjadi dua kal
i dan pada saat yang kedua anaknya Atik memanggil Ben sambil berlari ke dapur.
Sementara Vita dua hari sebelum Ben pergi merasa hatinya nggak enak sekali sampai tidak bisa makan. Entah kenapa!
Ben si malaikat kecil
Vita bercerita bagaimana sejak hamilpun, Ben tidak pernah menyusahkan. Vita sampai bilang Ben itu seperti malaikat karena sangat baik.Dia anak yang sangat anteng tapi juga ceria, nggak cengeng dan sangat pengertian. Ben lah yang selalu dibawa Vita pergi kemana-mana karena ia selalu senang-senang saja dibawa kemanapun. Ia yang rajin membantu Vita bikin kue, sudah pandai menimbang bahan-bahan kue juga paling senang menunggui Vita saat membuat kue.Ben juga anak yang sangat rapi. Pinsil warna nya bisa hanya setahun sekali membeli karena Ben rajin meraut pinsilnya sendiri, memberinya nama dan meletakkannya dengan rapi.Mainan-mainnya juga ia rapikan. Menurut Vita jauh berbeda dengan Catherine.
Catherine sempat bilang tadi :”yah ma, catherine nggak bisa bikin pe-er lagi dong, kan nggak ada Ben yang ngerautin pinsilku”.
Ya selama ini memang Ben yang merautkan pinsil-pinsil Cathherine saat ia belajar dan membuat pe-er bahkan yang merapikannya juga. Ia memang malaikat kecil bukan?
Ben si malaikat kecil itu sudah pergi. Ke sana, ke Surga ke rumah Tuhan dimana tidak ada lagi kesakitan. Dia pasti sudah senang disana, bermain bersama Yesus dan sahabatnya Ezra.
Vita dan mas Hadi menitip salam untuk semua teman-teman Mpers, terimakasih atas semua dukungannya. Meskipun tidak pernah kenal dan tidak pernah bertemu tapi dukungan teman-teman di sini sangat menguatkan Vita dan keluarga.
Tolong terus doakan Vita yang masih sangat terpukul dengan kepergian Ben.Semoga Vita kuat dan tidak terus menerus sedih.
Selamat jalan Ben. Sampai bertemu lagi di Surga nanti.