Ezra's Reviews

ReviewBarney Live Show, 11 Pebuari 2006Feb 16, '06 5:00 AM
for everyone
Category:Other
Kepengen ngasih new experience ke Ezra, nonton deh acara ini.Ibu, Ezra & si suster. Ayah nggak ikut, boncos katanya.Pertunjukkannya biasa aja. Semua nyanyiannya kayaqnya anak-anak udah familiar semua ya. Yang bikin kecewa, backgroundnya minimalis banget, nggak ngasih kejutan apa-apa, kurang meriah, nggak ada panduan cerita trus asli, sebentar banget. Cuma satu jam. Udah gitu yang nyebelin, untuk yang nonton di VIP jarak antar baris sempit banget. Bener-bener nggak mau rugi. Banyak orangtua yang protes. Ini kan pertunjukkan buat anak-anak, pastilah ada moment nggak bisa diemnya, mondar-mandir. Dengan jarak baris bangku yang pas ama dengkul, ya susah banget buat keluar. Nyebelin!!!
Ayah emang sengaja beli di VIP supaya Ezra bisa lebih deket ngeliatnya. Emang sih, tapi nggak nyangka aja sebegitu sempitnya

Tapi semuanya terobati deh ngeliat Ezra dan anak-anak lain begitu excited ngeliat Barney. Ezra sang pecicilan terpaku nggak bergerak sepanjang pertunjukkan. Dan ikut goyang-goyang pas ada lagu yang Ezra udah kenal.

Ibu nggak bawa kamera buat foto-foto. Selain ribet , ibu pikir pasti nggak boleh dong foto-foto selama pertunjukkan. Tapi ibu lupa, ini Indonesia. Banyak banget tuh yang foto-foto selama show berlangsung. Aaarrrrgh!!!

Sutrahlah! Moga ini pengalaman yang berharga untuk Ezra. Tahun depan kayaqnya nggak usah nonton deh ye!


ReviewReviewReviewReviewReviewHUTAN KOTA SRENGSENG IIINov 8, '05 9:03 AM
for everyone
Category:Other
Naaah.....ini dia pohon Bintaro!Ada buahnya nggak ya?


ReviewReviewReviewReviewReviewHUTAN KOTA SRENGSENG IINov 8, '05 8:59 AM
for everyone
Category:Other
Ini foto salah satu bagian di Hutan Kota Srengseng


ReviewReviewReviewReviewReviewHUTAN KOTA SRENGSENGNov 8, '05 2:24 AM
for everyone
Category:Other
Padahal sekian tahun bolak-balik dari rumah ke kantor, sering baca plang penunjuk jalan : HUTAN KOTA SRENGSENG, tapi nggak pernah ngeh. Apa iya di tengah kota Jakarta ada hutan? Sama nggak ama Taman Kota BSD?Penasaran, tapi nggak pernah kesampaian buat buktiin ke sana.

Kemaren (Senin, 7 November) ayah, ibu, ezra+si mbak pulang dari kantor ibu langsung ke sana. Ah.....senangnya ada pemandangan hijaunya pepohonan. Pepohonan diberi nama dan nama ilmiahnya. Dari sini kami baru tau kalo Bintaro itu ternyata nama sebuah pohon.Ada danau untuk orang memancing. Luasnya nggak tau. Nggak segede Kebun Raya Bogor sih tapi lebih luas dari Taman Kota BSD, oke banget buat nambah oksigen ke paru-paru kita.

Bayar 500 perak untuk 1 orang, mobil 2500 perak. Sangat murah untuk mendapatkan suasana hutan di tengah kota.

Kami pasti datang ke sana lagi. Yuk!


ReviewEinstein Never Used Flash Cards Jul 28, '05 2:05 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Parenting & Families
Author:Roberta Michnick Golinkoff ,Kathy Hirsh-Pasek ,Diane Eyer
"EINSTEIN NEVER USED FLASH CARDS : HOW OUR CHILDREN REALLY LEARN- AND WHY THEY NEED TO PLAY MORE AND MEMORIZE LESS"

Itu pesan yang disampaikan dalam buku ini yang ditulis oleh tiga peneliti di bidang psikologi perkembangan. Pesan tersebut didukung oleh berbagai penelitian dalam bidang psikologi perkembangan anak selama 40 tahun belakangan. Tetapi meskipun bukti-bukti penelitian menyatakan demikian, pesan tersebut tampaknya tidak sampai kepada kita, orang tua dan pengasuh anak. Buku ini mengingatkan kita bahwa kita terjebak dalam asumsi yang salah sehingga kita membuat anak-anak kita belajar (dalam konteks akademis) lebih awal dan mengurangi waktu bermain mereka, sementara dalam bermainlah anak-anak belajar banyak.

Sebagai orang tua, kita tentu selalu mengkhawatirkan kesejahteraan anak-anak kita. Salah satu yang kita khawatirkan adalah apakah anak kita akan memiliki
keunggulan untuk bersaing di dunia yang semakin kompetitif. Akibatnya kita sangat mengedepankan perkembangan otak anak: susu formula yang kita pilih adalah susu yang mengandung semua zat yang membantu pertumbuhan otak bayi; kita
membelikan mainan yang merangsang intelejensia anak; musik Mozart dan Bach menjadi menu bagi telinga mereka. Begitu anak-anak kita mulai bicara, sebagian dari kita berlomba-lomba memasukkan anak-anak kita ke kelompok bermain dan taman kanak-kanak yang menawarkan pelajaran musik, program dwi-bahasa, mental aritmatika dan berbagai aktivitas lain. Kita merasa bahwa belajar secara mandiri sebagaimana yang telah dilakukan selama ribuan tahun tidak lagi cukup.
Kekhawatiran kita menyebabkan anak-anak kita menjadi "anak-anak yang dibuat tergesa-gesa," dan mereka pun kehilangan masa kecil.

Telah banyak pakar yang membicarakan masalah di atas, dan para penulis dalam buku ini memberikan penawarnya. Dalam buku ini kita bisa menemukan berbagai bukti ilmiah mengenai perkembangan intelektual dan sosial anak tanpa bumbu-bumbu
apa pun dari media massa maupun dari pemasaran industri pendidikan anak sehingga kita bisa lebih mengerti perkembangan anak kita dan mengapa bermain adalah
belajar. Dengan berbekal pengetahuan tersebut, kita sebagai orang tua diharapkan dapat lebih percaya diri dalam mendidik generasi mendatang.

Buku ini dibagi dalam sepuluh bab. Setiap bab berisikan bukti-bukti penelitian dan tips-tips bagaimana secara praktis menerapkan berbagai hasil penelitian
tersebut dalam keseharian. Penulis membuka dengan mengungkapkan situasi orang tua modern di mana mereka menghadapi situasi yang kompetitif dan mereka berupaya
agar anak-anak mereka bisa unggul dengan persiapan sejak dini. Di bab dua, buku ini membahas otak dan perkembangannya, dan membantah mitos-mitos yang berkembang
seputar perkembangan otak dan intelejensia anak. Bab-bab selanjutnya menjelaskan perkembangan anak dalam hal kemampuan mengenal kuantitas, bahasa, membaca,intelejensia, dan keterampilan sosial. Dalam dua bab terakhir, penulis
menjelaskan mengenai bermain dan pentingnya bermain sebagai sarana belajar,serta rumus-rumus baru bagi kita sebagai orang tua dalam mengasuh anak.

Salah satu kesimpulan penelitan yang disampaikan di bab pertama adalah bahwa hubungan yang responsif dan bersifat mengasuh yang diterima anak dari orang tua dan para pengasuh merupakan hal kunci dalam memperkirakan perkembangan
intelektual dan emosional anak. Selain itu sebuah kajian oleh salah seorang penulis terhadap anak-anak yang dimasukkan ke taman kanak-kanak 'akademis dengan
yang dimasukkan ke TK biasa yang mengutamakan bermain menemukan bahwa mereka yang masuk ke TK 'akademis' tidak memiliki keunggulan akademis jangka pendek,
apalagi jangka panjang, dibandingkan dengan yang masuk ke TK biasa. Perbedaan kemampuan akademis antara kedua kelompok bahkan tak terlihat di kelas satu SD. Tetapi terdapat satu perbedaan antara kedua kelompok. Kelompok pertama terlihat
lebih gelisah dan kurang kreatif dibandingkan kelompok kedua. Jadi, anak-anak menjadi korban jika belajar secara akademik dipaksakan sebelum mereka siap.

Bab dua dimulai dengan menjelaskan otak dan sel-sel syaraf sehingga kita mengerti bagaimana mereka bekerja. Menurut penelitian, otak terus berkembang dan berubah selama selama hidup manusia dengan menciptakan sinapsis-sinapsis baru,
memperkuat yang perlu, dan sebaliknya menghapus yang tidak perlu. Penghapusan sinapsis (hubungan antara sel-sel syaraf) adalah sesuatu yang penting bagi otak agar bisa membuat keputusan dengan cepat dan tepat. Bahkan sebuah kelainan
genetik yang mengakibatkan cacat mental terkait dengan tidak adanya penghapusan sinapsis. Dengan demikian anggapan umum bahwa kita harus melakukan berbagai upaya agar jangan sampai bayi kehilangan banyak sinapsis adalah salah.

Seperti anggapan di atas, mitos mengenai lingkungan yang diperkaya juga tidak memiliki landasan ilmiah. Mitos mengenai lingkungan yang diperkaya akan merangsang pertumbuhan otak bayi adalah interpretasi yang salah atas penelitian yang membandingkan besar otak tikus yang dibesarkan sendiri di kandang sempit dengan yang dibesarkan bersama beberapa tikus lain di kandang besar yang berisi mainan, lorong-lorong, dan perosotan (lingkungan yang diperkaya). Hasil penelitian yang sama juga menunjukkan bahwa tikus yang memiliki otak paling besar adalah tikus yang dibesarkan di lingkungan alami. Sayangnya hasil yang terakhir ini kurang mendapatkan publikasi yang luas.

Seorang peneliti mengungkapkan kekhawatiran bahwa memperkenalkan lingkungan yang diperkaya dan program pelatihan yang ambisius lebih awal kepada anak berpotensi mengurangi kreativitas si anak. Jadi, terlalu banyak belajar lebih awal justru menjadi penghambat dan bukan pendorong bagi perkembangan intelejensia anak.

Kita juga sering mendengar bahwa tiga tahun pertama anak adalah "masa kritis" pertumbuhan otak yang akan menentukan apakah si anak akan menjadi seorang jenius di masa datang, dan selepas tiga tahun kesempatan itu tidak ada lagi. Tetapi anggapan ini juga tidak benar. Sebagai contoh, penelitian mengenai kemampuan berbahasa Inggris terhadap imigran dari Cina atau Spanyol di Amerika menemukan bahwa imigran yang datang waktu Ia lebih muda memiliki kemampuan yang lebih baik, tetapi tidak ada "masa kritis" di mana bahasa asing tidak lagi bisa dipelajari. Terlebih lagi, tidak ada bukti yang menunjukkan pengalaman belajar di masa kecil membantu pertumbuhan otak. Selama anak tumbuh di lingkungan yang normal, dan dikelilingi orang-orang yang menyayangi mereka, otak mereka akan tumbuh sendiri.

Setelah mematahkan anggapan umum mengenai perkembangan otak, buku ini kemudian menjelaskan bagaimana anak-anak mempelajari kuantitas. Bayi diperkirakan telah mengetahui konsep lebih dan kurang. Saat mereka tumbuh, kemampuan mereka berkembang menjadi mengetahui jumlah, dan para usia sekitar lima tahun mereka telah bisa menghitung dan membandingkan jumlah. Dalam hal bahasa, bayi telah mengetahui bahasa ibunya saat mereka masih berusia dua hari, dan saat mereka berusia lima bulan mereka tahu bahwa bahasa terdiri atas kalimat-kalimat. Ketika mereka berusia sekitar 18 bulan dan telah menguasai 50 kata, yang merupakan massa kritis di mana mereka mulai bisa membentuk kalimat dari dua kata. Saat itulah mereka mulai sering bertanya, "apa ini?", "apa itu?", dan bayi 18-20 bulan mampu belajar hingga sembilan kata per-hari. Kemampuan berbahasa anak terus berkembang dengan cara menemukan pola-pola di dalam bahasa dan kemudian belajar menggunakannya sendiri.

Kemampuan berbahasa adalah dasar bagi kemampuan membaca anak. Sebelum anak dapat membaca, mereka harus mengembangkan empat kemampuan dasar: kosa kata, bercerita,mengenal fonem, dan mengetahui kode tertulis. Kemampuan mengenal fonem berarti mampu memisahkan bunyi dalam kata, seperti "t" di "topi" dan "k" di "makan."

Berdasarkan penelitian, 17 persen murid taman kanak-kanak dan 70 persen murid kelas satu sekolah dasar mampu memisahkan bunyi dalam kata. Anak harus mampu mengenal kode tertulis sebelum bisa membaca, yakni memisahkan huruf-huruf dari kata, mengetahui bunyi yang dihasilkan huruf-huruf, dan menggabungkan bunyi masing-masing huruf sehingga membentuk kata. Kemampuan membaca lalu diikuti oleh kemampuan menulis yang biasa dimulai pada usia taman kanak-kanak. Saat anak mulai menuliskan kata-kata yang mereka dengar tetapi mereka salah menuliskan ejaan, mereka telah mencapai kemajuan besar yaitu mengerti bagaimana cara kerja kata dalam bahasa.

Anak-anak belajar dari kegiatan mereka sehari-hari. Mereka selalu belajar dengan aktif, dan berusaha mengerti lingkungan mereka. Sesuatu berulang-ulang yang dilakukan anak-anak, yang kadang membuat kita kesal, sering merupakan cara mereka untuk mengerti sesuatu. Kalau kita memperlihatkan kartu-kartu yang bergambar (flash card) dan mengucapkan apa yang tergambar di kartu tersebut,mereka akan membeo. Tetapi kalau kita membiarkan mereka bermain dengan permen mereka akan tertarik dengan kuantitas. Kunci dalam proses belajar mereka adalah belajar dalam konteks.

Buku ini juga menjelaskan perkembangan anak dalam hal mengenal identitas diri,yaitu mengenal tubuh dan mengenal emosi serta bagaimana mengendalikan emosi sendiri. Anak pun mulai bisa mengevaluasi diri sendiri, tetapi kemampuan ini membutuhkan waktu yang lama. Menurut hasil penelitian, hanya 59 persen anak berusia 30 - 40 bulan memberikan respon secara emosional saat mereka berlaku "buruk."

Dalam perkembangan sosialnya, dijelaskan bahwa anak pertama-tama mulai bisa membedakan antara orang dan barang, kemudian mereka bisa mengetahui emosi orang lain, dan pada tahap akhir mereka bisa menghargai bahwa orang lain berbeda pandangan daripada mereka. Dalam perkembangan tahap kedua, para peneliti melihat bahwa bayi membentuk keterikatan dengan sekelompok orang, dan sifat keterikatan di masa awal kehidupan mereka penting dan dapat memberikan dampak yang besar dalam penyesuaian-penyesuaian emosi dan akademik anak nantinya. Walaupun begitu, hubungan antara keterikatan dan penyesuaian di masa datang hanya terlihat jika si anak terus berada dalam lingkungan yang menyayangi dan mendukungnya.

Sebagai orang tua, yang perlu kita lakukan adalah memberikan dukungan bagi anak-anak untuk berkembang secara sehat. Salah satu dukungan tersebut mungkin telah kita lakukan selama ini, yaitu apa yang disebut sebagai scaffolding di mana kala kita melihat anak kesulitan melakukan sesuatu kita lalu memberikan sedikit bantuan yang membuat mereka dapat melakukan hal tersebut. Misalnya saat anak menyusun puzzle dan ia kesulitan, kita membantu dengan memasangkan satu potong puzzle sehingga ia bisa menyelesaikan puzzle tersebut. Hal lain yang dapat kita lakukan adalah dengan berbicara dengan anak dan membaca buku bagi mereka. Kegiatan ini dapat menambah kosakata (penguasaan kosakata dapat meningkatkan IQ sebesar 15-20 poin), penguasaan bahasa, dan minat baca. Selain itu, jika kita berbicara dengan mereka tentang emosi orang lain, hal ini dapat meningkatkan intelejensia sosial mereka. Misalnya, kita dapat menjelaskan kepada mereka, "Si polan sedih karena mainannya hilang," atau "Si polan menangis karena tangannya sakit."

Karena si anak adalah mesin bagi perkembangan mereka sendiri, maka yang sebaiknya dilakukan orang tua adalah menjadi mitra bagi mereka. Kita berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas anak kita, tetapi mereka lah yang
memimpin dalam aktivitas-aktivitas tersebut. Kita mengulurkan sedikit bantuan kepada mereka (scaffolding) dan mengarahkan mereka mengenai hal-hal yang menyangkut moral. Di samping itu tentu saja kita harus memberikan pujian kepada mereka.

Pujian adalah senjata yang kuat sekaligus berbahaya. Ada anggapan umum yang salah bahwa memuji intelejensia anak dapat meningkatkan rasa percaya diri mereka dalam bidang akademik. Anak-anak perlu dipuji atas usaha mereka karena belajar harus dilihat sebagai proses, bukan sebagai pembuktian atas kemampuan mereka. Dengan memuji usaha anak, kita mengajari mereka untuk menilai diri sendiri atas upaya yang mereka kerahkan untuk mencapai sesuatu sehingga mereka tumbuh menjadi manusia yang tidak mudah menyerah.

Setelah kita tahu bagaimana perkembangan anak di berbagai sisi, lantas bagaimana dengan bermain? Bab 9 menjelaskan pentingnya bermain bagi anak. Bukti-bukti penelitian menunjukkan dengan jelas, bermain mendorong perkembangan di berbagai sisi. Para peneliti telah menemukan bahwa bermain terkait dengan kreativitas dan imajinasi yang lebih baik, dan bahkan dengan kemampuan membaca dan skor IQ yang lebih tinggi. Jadi, jelas bahwa BERMAIN = BELAJAR. Terlebih lagi, jika orang dewasa ikut (bukan mengontrol) bermain dengan anak, tingkat permainan mereka meningkat.

Bagaimana mendefinisikan bermain? Menurut para peneliti, bermain memiliki lima unsur. Pertama, bermain harus bisa dinikmati dan menyenangkan. Kedua, bermain tidak boleh memiliki tujuan yang ditentukan. Ketiga, bermain harus spontan dan sukarela, bebas sesuai pilihan yang bermain. Keempat, para pemain harus terlibat aktif. Dan terakhir, bermain mengandung unsur berpura-pura.

Dari kelima unsur tersebut, yang paling sering kita hilangkan adalah unsure kedua. Kita membelikan anak-anak kita mainan yang mengandung unsur pendidikan.
Hal ini tidak berarti semua mainan tersebut tidak bagus bagi anak. Yang perlu kita ingat adalah mainan tersebut, bukan si anak, menentukan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Hal serupa terjadi dalam aktivitas-aktivitas yang terorganisir: orang dewasa mengarahkan apa yang harus dilakukan anak. Anak-anak perlu mengarahkan sendiri kegiatan bermain mereka. Dengan begitu, mereka merasa memiliki kekuasaan atas permainan mereka. Ini adalah salah satu fungsi utama bermain.

Menjauhkan anak dari bermain dapat mengarah kepada depresi dan kekerasan. Penelitian pada binatang menunjukkan bahwa tanpa bermain, binatang mengalami penundaan dalam kematangan otak. Penelitian juga membuktikan bahwa memberikan istirahat bermain kepada anak si sekolah memaksimalkan perhatian mereka kepada tugas-tugas sekolah yang melibatkan berpikir.

Semua peneliti sepakat bahwa bermain memberikan dasar yang kuat bagi pertumbuhan intelejensia, kreativitas, dan kemampuan menyelesaikan masalah. Bermain juga merupakan alat untuk perkembangan emosi serta pengembangan keterampilan-keterampilan sosial dasar anak. Kita, orang tua, juga mungkin telah mengerti hal ini, tetapi mungkin kita kurang memfasilitasi anak untuk bermain karena kita khawatir bahwa mereka menjadi tidak belajar.

Buku ini memberikan banyak penjelasan tentang bermain dan manfaatnya. Saat anak bermain dengan benda-benda fisik, mereka belajar tentang hubungan antara satu benda dengan benda yang lain. Pengalaman mereka dari memainkan benda-benda tersebut tidak bisa diganti dengan kartu-kartu bergambar, atau bahkan dengan permainan komputer. Kreatifitas mereka diasah dengan bermain bebas dan tak terstruktur. Kemampuan berbahasa mereka berkembang dengan bermain pura-pura. Ketika mereka bermain "masak-masakan" dengan teman-teman, mereka mengembangkan kemampuan sosial mereka. Anak-anak yang berlari ke sana ke mari melatih kemampuan motorik mereka.

Albert Einstein memiliki kepandaian yang luar biasa, bukan karena Ia mengetahui banyak hal, tetapi Ia pemikir yang hebat. Tidak sedikit dari kita yang mengharapkan anak-anak kita memiliki kepandaian seperti Einstein. Waktu ia berusia 6 tahun, ia diikutkan dalam pelajaran musik, tetapi ia tidak pandai-pandai. Tiba-tiba pada umur 13 tahun ia sangat menyenangi Mozart dan pandai bermain biola. Komentar Einstein tentang kemampuan musiknya adalah "Love is a better teacher than a sense of duty."

Yang dapat kita pelajari dari masa kecil Einstein adalah Ia mengambil jalannya sendiri, dan sebagian besar proses belajarnya terjadi saat Ia bermain. Jadi, kalau ibu Einstein tidak mengajarinya dengan kartu-kartu bergambar, mengapa kita harus melatih (drill) anak-anak kita, mengajarkan mereka membaca sebelum masuk taman kanak-kanak, bahkan mengajari mereka aritmatika sebelum umur tiga tahun?
Kita tentu melakukan hal-hal tersebut dengan niat baik, tetapi mungkin kita melakukannya hanya karena kita tidak menerima informasi yang benar.

Buku ini menyebutkan empat mitos yang tak sehat yang menjadi petunjuk bagi kita dalam membesarkan anak:

1.Lebih cepat lebih baik
Kita ingin mempercepat perkembangan kognitif dan sosial anak.

2.Jadikan setiap saat berarti
Jangan sampai ada waktu anak yang terbuang percuma.

3.Orang tua adalah serba bisa
Kita menganggap bahwa hanya kita yang bertanggung jawab atas perkembangan anak.

4.Anak adalah gelas kosong
Anak-anak hanya menunggu untuk diisi.

Kita perlu melepaskan diri dari asumsi-asumsi tersebut, lalu mendidik anak-anak
kita menggunakan empat prinsip berikut:

1.Belajar yang paling baik adalah belajar yang berada dalam jangkauan anak
2.Anak perlu keluarga, teman, dan guru mereka untuk melampaui kemampuan alami mereka.
3.Menekankan proses di atas hasil menciptakan kecintaan terhadap belajar
Kita perlu memperhatikan bagaimana mereka belajar selain apa yang mereka pelajari.
4.EQ, bukan hanya IQ

Anak yang lebih banyak bermain cenderung lebih bahagia, dan mereka cenderung memiliki hubungan lebih baik dengan teman-teman mereka, dan kemudian lebih aktif di sekolah. EQ dan IQ berkembang melalui bermain.
Belajar dalam konteks adalah belajar yang sebenarnya - dan bermain adalah guru terbaik.

Dengan segala pengetahuan yang kita peroleh dari penelitian-penellitian tentang perkembangan anak, yang paling penting bagi kita orang tua adalah menciptakan keseimbangan. Keseimbangan antara bermain bebas dan aktivitas yang
diorganisasikan orang dewasa. Dengan kesadaran seperti ini, kita orang tua dapat memberikan yang terbaik bagi anak-anak kita.

Sebagai penutup, buku ini memberikan tiga kunci, yaitu 3 R, untuk mencapai
keseimbangan tersebut:

Reflect
Tanyakan diri kita saat kita mendaftarkan anak kita ke suatu aktivitas yang terstruktur, apakah kita melakukannya karena keempat mitos salah yang disinggung di atas.

Resist
Tolak dorongan yang mengatakan bahwa lebih cepat adalah lebih baik.

Re-center
Fokus kembali kepada empat prinsip di atas yang memiliki landasan ilmiah.

Bukti-bukti ilmiah yang ada di dalam buku ini membuat kita orang tua bisa merasa lebih tenang dalam membesarkan putra-putri kita karena kita mengetahui bahwa bermain memberi manfaat yang banyak bagi perkembangan anak. Buku ini berisi banyak sekali tips-tips praktis untuk membantu anak kita mengembangkan diri mereka secara sehat. Sayang sekali untuk melewatkan buku ini. Selamat membaca!
================================================
IBU DAPETIN ARTIKEL INI DARI SEBUAH MILIS YANG IBU IKUTI. PENULISNYA HUSNI SIAPA GITU (HEHEHE...UDAH HILANG ORIGINAL MESSAGE NYA).
JADI ARTINYA IBU JUGA BELUM BACA BUKUNYA. MAKANYA NGGAK TAU MAU DIKASIH BINTANG BERAPA. JADI SEMENTARA 1 BINTANG DULU KALEE! NTAR DEH YA DIUPDATE LAGI KALO IBU UDAH KETEMU BUKUNYA!
PALING NGGAK, GARA-GARA BACA TULISAN INI IBU JADI TERTARIK UNTUK MEMBACA BUKUNYA

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.